Pusat Arsip Informasi KANTOR BERITA INDONESIA

Selasa, 06 Januari 2015

Pendaftaran BPJS Brebes Luar Biasa Semrawut!


KaBeIn, EDIT, Pendaftaran dan pelayanan di BPJS Kab Brebes sudah bagus. Mereka sekarang memiliki kantor baru. SELAMAT!

Iklan layanan masyarakat  dari pemerintah di televisi dengan  gencar mengajak agar warganya mendaftarkan diri menjadi peserta BPJS Kesehatan, namun gencarnya pemberitaan ini tidak dibarengi dengan tempat pendaftaran yang memadai. Seperti yang terjadi di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Kantor BPJS Kesehatan Brebes
Kabupaten Brebes yang luas membentang ini hanya di handle oleh sebuah kantor cabang BPJS yang kecil dengan pegawai sedikit. Untuk mendaftarkan diri menjadi peserta BPJS disini sungguh memerlukan perjuangan yang teramat sangat amatlah berat, berangkat harus pagi-pagi untuk mendapatkan nomor urut dan itupun belum tentu kebagian. Karena untuk pendaftararan BPJS di kantor Brebes ini hanya dibatasi 50 orang setiap harinya. 50 orang untuk BPJS Mandiri dan 50 orang untuk BPJS golongan lain (saya lupa istilahnya). Banyak orang yang berangkat ke sana hanya gigit jari dan disuruh datang esok harinya berbarengan dengan ayam berkokok! Dan lagi-lagi besok berangkat juga belum tentu dapat nomor urut karena banyaknya peminat dan sedikitnya ‘kuota’.

Coba bayangkan, satu kabupaten dengan luas 1.657,73 km2 hanya di tangani satu kantor cabang yang sungguh kecil. Kantornya saja berada di sebuah jalan yang layak disebut gang. Di ‘gang’ Pusponegoro 26 Brebes.

Dan yang lebih aneh, atau mungkin gila, ketika saya mendaftar pada hari Selasa, 6 Februari 2015 (tentu saja saya gagal karena tidak mendaptkan nomor urut), untuk mendapatkan nomor antrian, kita bukannya tinggal mengambil kartu antrian, namun kita akan berebut kursi dan mendudukinya. Siapa yang bisa mendapatkan tempat duduk, dia akan mendapatkan kartu yang dibagikan oleh petugas. Orang disamping saya malah bercerita bahwa pernah ada yang sampai terjatuh untuk berebut kursi.

Lucunya (lucu apanya, mangkel kok), kursi yang disediakan tidak ada 50 kursi. Sehingga untuk memperebutkan nomor antrian banyak yang harus saling pangku! Konyol!
Apalagi di bagian pendaftaran BPJS mandiri yang tempatnya mojok, kursinya hanya ada sepuluh!

Pendaftaran kantor BPJS Brebes tampak sepi karena sehari hanya menerima antrian 50 orang untuk BPJS mandiri dan 50 orang untuk BPJS lainnya. Foto diambil jam 11 siang
Jangan terheran-heran dulu, ini cerita belum selesai. Pemerintah telah menfasilitasi pendaftaran melalui online, sehingga kita tidak harus berdesak-desakan ditempat pendaftaran.  Dalam peraturan atau dalam beberapa kabar online lainnya, ketika kita mendaftar lewat online dan ingin melakukan print-out kartu di kantor BPJS, maka kita tidak perlu mengambil nomor urut. Kita tinggal datangi langsung bagian print-out. Seharusnya memang demikian, lha wong kita cuma ngeprint kok. Simsalabim, di Brebes seperti ini tidak berlaku, orang yang telah mendaftar melalui online dan datang hanya untuk print kartu diwajibkan antri mendapatkan nomor urut yang susahnya audubilah ini.

Dan lagi-lagi untuk hanya sekedar ngeprint kartu saja belum tentu datang sehari bisa kesampaian, kalau tidak dapat nomor urut ya harus datang besok, besok dan besok sampai mendapatkan nomor urut. Padahal hanya ingin ngeprint!!! (tanda seru tiga kali)

Sebetulnya kita bisa saja ngeprint kartu dirumah, tapi tentu hanya menggunakan kertas HVS, bukan sebuah kartu. Meskipun sama-sama valid, mempunyai kartu lebih sreg daripada hanya selembar kertas HVS.

Pikirkan juga  nasib orang daerah Bumiayu yang berjam-jam menempuh perjalanan ke kota Brebes dan ternyata hari itu gagal, besok datang gagal lagi dan lagi.

Bagaimana kepala BPJS Brebes? Masih mau seperti ini? Anda menangani satu penduduk sekabupaten, bukan satu RW! Mungkin bapak Jokowi bisa sidak langsung ke Brebes?
Sebetulnya tinggal menambah pegawai penginput data saja kok, tambahin computer penginput dan pegawai.  Dirikan kantor bantuan, misalnya di sebuah aula yang luas. Apakah ini sulit untuk sebuah instansi? Sekali lagi, ini akan mengurusi orang sekabupaten!

Oh, ya. Ada lagi nih. Untuk sekedar tanya-tanya saja tidak bisa, orang yang mengantri berada diluar pintu masuk, dan pintu ditutup. Mau nanya, nanya kesiapa, hah?! Mikir!