Pusat Arsip Informasi KANTOR BERITA INDONESIA

Jumat, 12 September 2014

5 Fakta RUU Pilkada


KaBeIn, RUU Pilkada sedang menjadi pembicaraan super hot di Indonesia, meskipun banyak yang kontra tapi RUU tersebut terus saja bergulir. Berita yang paling santer adalah mundurnya Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok dari partai Gerindra partai ini ikut mendukung RUU.

Ahok menolak pilkada tidak langsung (Photo: BBC Indonesia)
Berikut ini fakta tentang apa sebenarnya RUU Pilkada tesebut.

1. Sebenarnya apa sih RUU Pilkada itu.
RUU Pilkada telah digodok pemerintah sejak tahun 2010 silam, dalam RUU kali ini ada beberapa ketentuan baru yang menjadi kontoversi. Yakni:

a) Pilkada hanya memilih gubernur dan bupati/walikota.
b) Wakil gubernur dan wakil bupati/wakil walikota ditunjuk dari lingkungan PNS.
c) Gubernur tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan oleh DPRD provinsi.

2. Apa dampak RUU Pilkada
RUU Pilkada rencananya akan disahkan pada tanggal 25 September 2014, jika ini terjadi maka pilkada akan berlaku serentak di 202 kabupaten/kota provinsi mulai 2015.

3. Alasan pilkada tidak dipilih langsung oleh rakyat
a) Kementerian Luar Negeri mencatat sudah lebih dari 300 orang kepala daerah terpilih sejak 2004 terjerat kasus korupsi

b) Sejak 2004, pilkada langsung sudah mengantarkan 290 orang yang bermasalah dengan hukum ke kursi kekuasaan

c) Pilkada langsung menelan biaya besar

4. Partai pendukung dan penentang
Yang mendukung pilkada langsung:
PDIP: 95 kursi
Hanura: 18 kursi
PKB: 27 kursi
Total: 140 kursi (25 %)

Partai politik yang mendukung pilkada melalui DPRD:
Demokrat 150 kursi
Gerindra: 26 kursi
PAN: 43 kursi
PPP: 37 kursi
PKS: 57 kursi
Golkar: 107 kursi
Total: 420 kursi (75 %)

5. Sikap para politisi
Banyak yang tidak mendukung RUU Pilkada, dikatakan bahwa jika pilkada tidak dipilih oleh rakyat berarti akan menodai semangat reformasi. Pemilihan kepala daerah oleh DPR juga akan membuat kepala daerah terlalu tunduk pada DPR dan berusaha untuk menyenangkan DPR.
Diantara politisi besar yang menolak pilkada tidak langsung adalah Ahok, Kang Emil (walikota Bandung, Ridwan Kamil), LSM dan beberapa elemen masyarakat.
(sumber: BBC Indonesia dengan improvisasi)